Imam Al Mahdi a.s. dalam Sumber-Sumber Sunni

Di antara sekian perkara yang diperselisihkan kaum muslimin, keyakinan tentang Al Mahdi a.s. sebenarnya termasuk yang paling sedikit diperselisihkan. Sunni dan Syiah sama-sama meyakini bahwa akan datang seorang dari keturunan Rasulullah SAAW yang memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman. Namun dalam praktiknya, pembahasan ini nyaris selalu diperlakukan sebagai urusan satu mazhab saja.

Gejalanya mudah dikenali. Seorang penceramah membicarakan Al Mahdi selama beberapa menit, lalu tiba-tiba berbelok: apa pun yang kalian dengar, jangan sampai terpengaruh oleh Syiah dalam soal Al Mahdi. Sejak titik itu yang dibicarakan bukan lagi Al Mahdi, melainkan Syiah.

Belokan semacam itu sering pula dibarengi keterangan yang tidak tepat. Disebutkan bahwa Syiah meyakini Al Mahdi lahir lima ratus tahun yang lalu — padahal yang diyakini adalah kelahiran pada tahun 255 H, sekitar seribu dua ratus tahun yang lalu. Disebutkan bahwa beliau menghilang ke dalam sebuah gua — padahal tidak ada satu pun ajaran dalam mazhab ini yang menyatakan demikian; ruang bawah tanah di Samarra adalah tempat yang dikaitkan dengan beliau, bukan cara terjadinya kegaiban. Disebutkan pula bahwa namanya Muhammad Al Askari — padahal yang benar adalah Muhammad bin Al Hasan Al Askari a.s.

Satu hal yang disebutkan penceramah itu memang benar dan memang membedakan: kami meyakini beliau maksum, dan meyakini beliau yang kedua belas dari dua belas. Itu perbedaan yang nyata dan tidak perlu disembunyikan. Tulisan ini tidak hendak menghapus perbedaan, melainkan menunjukkan betapa luas bagian yang sebenarnya sudah sama — dan betapa banyak dari bagian yang sama itu tersimpan justru di dalam kitab-kitab hadits Sunni sendiri.

Beriman kepada yang gaib

Keberatan pertama biasanya bukan tentang teks, melainkan tentang akal sehat: bagaimana mungkin beriman kepada seorang manusia yang tidak dapat dilihat?

Jawabannya ada di awal surah yang paling sering dibaca setiap muslim.

الٓمٓ

QS Al-Baqarah (2):1

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ

QS Al-Baqarah (2):2

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

QS Al-Baqarah (2):3

"Alif Lam Mim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa — yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib ..."

Sifat pertama yang Allah SWT sebutkan bagi orang bertakwa adalah iman kepada yang gaib. Tidak seorang muslim pun pernah melihat Allah dengan matanya, namun ia beriman. Tidak seorang pun melihat malaikat, jin, atau Iblis, namun ketiganya diimani keberadaannya. Maka keberatan "aku tidak melihatnya" bukanlah keberatan yang berdiri di atas dasar keislaman.

Keberatan kedua menyangkut usia: mungkinkah seorang manusia hidup seribu dua ratus tahun? Perlu diingat bahwa setiap muslim sudah meyakini keberadaan Iblis, yang usianya jauh melampaui itu, dan meyakini pula bahwa ia masih sanggup membisikkan keburukan hari ini. Panjang umur, dengan sendirinya, bukan perkara yang ditolak oleh akidah Islam.

Lebih dari itu, Al Mahdi a.s. bukan satu-satunya makhluk Allah yang diyakini tetap hidup di luar jangkauan pandangan. Kaum muslimin meyakini bahwa Nabi Isa a.s. tidak dibunuh dan tidak disalib.

وَقَوۡلِهِمۡ إِنَّا قَتَلۡنَا ٱلۡمَسِيحَ عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينَۢا

QS An-Nisa (4):157

بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا

QS An-Nisa (4):158

"... padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka ... Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya."

Bahkan tidak terlihatnya seseorang yang berada di tengah orang banyak pun bukan hal yang asing dalam sejarah Islam. Pada malam hijrah, Rasulullah SAAW keluar dari rumahnya melewati orang-orang Quraisy yang sedang mengepung untuk membunuh beliau, dan mereka tidak melihatnya.

وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ

QS Ya-Sin (36):9

"Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat."

Dajjal lebih tua daripada Al Mahdi

Ada satu perbandingan yang jarang diajukan, dan justru karena itu menarik.

Dalam Shahih Muslim, pada kitab tentang fitnah dan tanda-tanda hari kiamat, terdapat riwayat panjang yang dikenal sebagai hadits Al Jassasah. Fathimah binti Qais menuturkan bahwa Rasulullah SAAW mengumpulkan orang-orang setelah shalat, lalu memberitahukan bahwa Tamim Ad Dari — seorang Nasrani yang baru masuk Islam — menyampaikan kepadanya sesuatu yang bersesuaian dengan apa yang selama ini beliau sampaikan tentang Al Masih Ad Dajjal.

Tamim bersama tiga puluh orang berlayar, terombang-ambing ombak selama sebulan, lalu terdampar di sebuah pulau. Di sana mereka bertemu makhluk berbulu lebat yang tidak dapat dibedakan muka dan punggungnya. Makhluk itu memperkenalkan diri sebagai Al Jassasah dan menyuruh mereka menemui seorang lelaki di biara. Lelaki itu bertubuh sangat besar, terbelenggu besi, tangan terikat ke leher dan kaki terpasung dari lutut hingga mata kaki. Ia bertanya tentang pohon kurma Baisan — apakah masih berbuah; tentang danau Thabariyah — apakah masih berair; tentang mata air Zughar — apakah penduduk masih bercocok tanam dengannya. Terakhir ia bertanya tentang Nabi yang ummi: apa yang telah ia lakukan. Setelah dijawab, ia berkata: aku adalah Al Masih Ad Dajjal. Ia menyatakan akan segera diizinkan keluar dan menjelajahi bumi, tidak menyisakan satu negeri pun, kecuali Makkah dan Thayyibah yang diharamkan baginya.

Perhatikan implikasinya. Riwayat ini terdapat dalam kitab yang menempati kedudukan tertinggi kedua di kalangan Sunni, dan di dalamnya seorang makhluk dinyatakan sudah ada, hidup, dan terbelenggu di suatu tempat sejak zaman Rasulullah SAAW. Artinya, dalam kerangka Sunni sendiri, Dajjal lebih dahulu ada daripada Al Mahdi a.s., yang menurut keyakinan Syiah lahir sekitar dua setengah abad setelah wafatnya Rasulullah SAAW.

Maka pertanyaan yang wajar diajukan bukanlah "bagaimana kalian percaya pada manusia yang hidup begitu lama", melainkan mengapa keberatan itu hanya diarahkan kepada satu pihak. Siapa yang menerima hadits Al Jassasah sudah menerima prinsipnya: seorang makhluk dapat dipanjangkan umurnya dan ditahan dari pandangan manusia sampai waktu yang Allah tentukan.

Dari riwayat yang sama pula muncul ketetapan bahwa Dajjal tidak dibunuh oleh siapa pun kecuali Isa bin Maryam a.s. Dan di sinilah dua nama itu bertemu: kembalinya Nabi Isa a.s. dan kemunculan Al Mahdi a.s.

Turunnya Nabi Isa a.s. dan imam yang mengimaminya

Dalam Shahih Al Bukhari, pada kitab tentang kisah para nabi, terdapat satu bab yang judulnya sudah cukup menjelaskan: turunnya Isa bin Maryam. Di dalamnya diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAAW bersabda, demi Dzat yang jiwanya berada di tangan-Nya, sungguh Isa bin Maryam akan turun di tengah kalian sebagai pemimpin yang adil, mematahkan salib, dan harta akan melimpah sampai tidak ada lagi yang mau menerimanya.

Riwayat berikutnya dalam bab yang sama jauh lebih menentukan, dan justru lebih jarang dikutip: bagaimana keadaan kalian apabila putra Maryam turun di tengah kalian, sedangkan imam kalian berasal dari kalangan kalian sendiri?

Kalimat itu menyimpan satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Jika Nabi Isa a.s. turun dan ternyata ada imam yang mengimaminya, siapakah orang yang kedudukannya sedemikian rupa sehingga seorang nabi ulul azmi berdiri di belakangnya dalam shalat? Sumber-sumber Sunni sendiri, dalam pembahasan tanda-tanda akhir zaman, menyebut nama itu: Al Mahdi.

Kitab Al Mahdi dalam Sunan Abu Dawud

Bila ada satu hal yang paling patut diketahui oleh siapa pun yang mengira pembahasan Al Mahdi adalah bikinan satu mazhab, hal itu adalah bahwa dalam Sunan Abu Dawud terdapat sebuah kitab utuh yang berjudul Kitab Al Mahdi. Bukan satu bab sisipan, melainkan satu bagian tersendiri.

Di dalamnya terhimpun, antara lain:

Riwayat Jabir bin Samurah bahwa agama ini akan tetap tegak sampai ada dua belas khalifah. Orang-orang bertakbir dan riuh, lalu Rasulullah SAAW mengucapkan sesuatu dengan suara rendah; ketika ditanyakan, ternyata beliau bersabda bahwa semuanya dari Quraisy. Bahwa hadits tentang dua belas ini ditempatkan justru di dalam Kitab Al Mahdi, bukan di tempat lain, sudah cukup menjadi bahan renungan. Orang boleh tidak sepakat dengan cara kami menghitung dua belas itu, tetapi angkanya bukan kami yang mengarang.

Riwayat bahwa Allah akan memanjangkan hari itu sampai Dia mengutus seorang lelaki dari keluarga Rasulullah SAAW — namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku — yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman.

Riwayat bahwa seandainya tidak tersisa dari usia dunia kecuali satu hari saja, Allah akan mengutus seorang lelaki dari keluarga beliau untuk memenuhinya dengan keadilan. Satu hari. Kalimat ini menyimpan sebuah kaidah yang besar: bumi ini tidak pernah kosong dari hujjah Allah, dan tidak akan dilipat sebelum hujjah itu menunaikan perannya.

Riwayat Ummu Salamah bahwa Al Mahdi berasal dari keturunan Rasulullah SAAW, dari anak-cucu Fatimah a.s. Kepada kami sering dikatakan bahwa kami terlalu memusatkan segala sesuatu pada satu keluarga. Namun garis keturunan itu bukan kami yang menetapkan; ia disebut dalam kitab yang tidak kami tulis, dan ia disebut pula setiap kali seorang muslim membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dan riwayat tentang pasukan yang ditenggelamkan bumi di Al Baida ketika hendak menyerang Al Mahdi di Makkah — jaisyul khasf — beserta keterangan bahwa mereka semua ditelan bumi, tetapi pada hari kiamat masing-masing dibangkitkan menurut niatnya.

Sunan Ibnu Majah: bab kemunculan Al Mahdi

Dalam Sunan Ibnu Majah, pada Kitab Al Fitan, terdapat bab yang secara khusus berjudul kemunculan Al Mahdi. Beberapa riwayat di dalamnya patut disimak berurutan.

Yang pertama dibuka dengan sebuah pemandangan. Ketika beberapa pemuda Bani Hasyim lewat di hadapan Rasulullah SAAW, mata beliau berlinang dan wajah beliau berubah. Ketika ditanya, beliau bersabda bahwa keluarga beliau adalah keluarga yang Allah pilihkan akhirat atas dunia, dan bahwa sepeninggal beliau keluarga itu akan ditimpa kesulitan, diusir dan disingkirkan — sampai datang suatu kaum dari arah timur dengan panji-panji hitam, yang menuntut hak lalu tidak diberi, kemudian berperang dan dimenangkan, dan akhirnya menyerahkan urusan itu kepada seorang dari keluarga beliau yang akan memenuhi bumi dengan keadilan. Beliau menutup dengan pesan: siapa di antara kalian yang mendapati zaman itu, datangilah dan tolonglah, sekalipun harus merangkak di atas salju.

Yang menarik, riwayat tentang Al Mahdi ini dibuka dengan air mata Rasulullah SAAW untuk keluarganya. Beliau seakan sedang membacakan musibah bagi keluarga beliau sendiri sebelum menyampaikan kabar gembira. Dan apa yang beliau sebutkan itu benar-benar terjadi: satu demi satu keluarga beliau dibunuh, dipenggal, dan ditawan.

Riwayat berikutnya menyebutkan bahwa Al Mahdi akan muncul di tengah umat ini dan berkuasa tujuh tahun, atau sembilan; pada masa itu umat akan hidup dalam kesejahteraan yang belum pernah mereka rasakan; harta menumpuk, sampai bila seseorang berdiri dan berkata, wahai Mahdi, berilah aku, beliau menjawab: ambillah sebanyak yang engkau mau.

Lalu riwayat yang paling sering luput: apabila kalian melihatnya, berbaiatlah kepadanya, sekalipun harus merangkak di atas salju, sebab ia adalah khalifah Allah, Al Mahdi. Sebutan khalifah Allah bukan sebutan ringan; ia dipakai bagi Adam a.s. dan bagi para nabi. Dan sebutan itu tidak terdapat dalam Al Kafi atau Bihar Al Anwar pada tempat ini, melainkan dalam Sunan Ibnu Majah.

Kemudian: Al Mahdi berasal dari kami, Ahlul Bayt; Allah akan memperbaikinya dalam satu malam. Satu malam. Sebagian pembaca memahaminya sebagai persiapan yang Allah sempurnakan seketika; namun kalimat itu juga terbuka bagi pembacaan lain — bahwa yang terjadi dalam semalam adalah penampakannya, dari keadaan yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Kemudian: Al Mahdi dari keturunan Fatimah. Dan riwayat lain: kami, anak-cucu Abdul Muththalib, adalah penghulu penghuni surga — aku, Hamzah, Ali, Ja'far, Al Hasan, Al Husain, dan Al Mahdi. Nama Al Mahdi disebut dalam satu deretan bersama nama-nama yang tidak seorang muslim pun ragu memuliakannya.

Dan terakhir, sebuah kalimat pendek: suatu kaum akan keluar dari arah timur, lalu mereka menyiapkan jalan bagi Al Mahdi untuk memegang urusan.

Yang masih berbeda

Perbedaan tentu tetap ada, dan tidak perlu dikaburkan. Yang paling pokok adalah apakah beliau sudah dilahirkan atau belum. Ada pula perbedaan mengenai nama ayahnya — sebagian riwayat Sunni menyebut Abdullah, sedangkan mazhab Ahlul Bayt menyebut Al Hasan Al Askari a.s. Ada juga perbedaan tentang garis keturunannya: dari Imam Al Hasan a.s. atau dari Imam Al Husain a.s. Dan ada perbedaan tentang kemaksumannya.

Namun perhatikan apa yang tersisa setelah semua perbedaan itu dikurangkan. Kedua belah pihak sepakat bahwa beliau dari keturunan Fatimah a.s.; bahwa beliau memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi kezaliman; bahwa Nabi Isa a.s. turun pada masanya; bahwa Dajjal adalah lawannya; bahwa kedatangannya adalah kepastian yang tidak dapat dibatalkan oleh berakhirnya usia dunia. Yang disepakati jauh lebih banyak daripada yang diperselisihkan, dan yang disepakati itulah yang justru paling jarang dibicarakan bersama.

Kitab-kitab yang tidak dibuka

Kelalaian ini tidak sepihak. Di kalangan Syiah sendiri, kitab Al Ghaibah karya An Nu'mani dan Kitab Al Ghaibah karya Syaikh Ath Thusi — dua karya yang secara khusus membahas dan menjawab keberatan-keberatan seputar kegaiban — jarang dibuka oleh mereka yang setiap pagi membaca doa untuk menyegerakan kemunculan beliau. Kita menyebut nama beliau setiap hari, tetapi tidak selalu meluangkan waktu untuk mempelajarinya.

Padahal tempat-tempat yang disebut dalam riwayat-riwayat itu bukan nama-nama asing: Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, Irak, Syam, Yaman. Tempat-tempat yang hari ini justru paling banyak menanggung penderitaan. Sulit membaca kembali riwayat-riwayat itu tanpa merasa bahwa pembahasan ini menyangkut sesuatu yang sedang berlangsung, bukan sekadar bab dalam kitab.

Penutup

Tujuan menelusuri kitab-kitab Sunni di atas bukan untuk membuktikan mazhab dengan dalil orang lain, dan bukan pula untuk memenangkan perdebatan. Tujuannya lebih sederhana: menunjukkan bahwa penantian ini bukan milik satu golongan. Ia tercatat pada kedua belah pihak, dengan lafal yang sering kali nyaris sama.

Bila kelak beliau muncul, beliau tidak akan muncul untuk satu mazhab. Karena itu, semakin banyak kita mempelajarinya bersama, semakin sedikit yang tersisa untuk diperselisihkan pada hari itu.

=====
(1) Tulisan ini disusun dari sebuah episode program Live in London di kanal Imam Hussain TV bersama Dr. Sayed Ammar Nakshawani, yang membahas Imam Al Mahdi a.s. dalam literatur Sunni. Susunan, pilihan kata dan kesimpulan dalam tulisan ini adalah milik penyusun; ceramah tersebut menjadi sumber tema dan rujukan kitabnya.
(2) Rujukan hadits pada tulisan ini disebutkan menurut nama kitab dan babnya, bukan menurut nomor, sebab bahan yang tersedia bagi penyusun berupa transkrip lisan dan penomoran berbeda antar cetakan. Teks Arab hadits sengaja tidak dikutip di sini dengan alasan yang sama; pembaca yang hendak menukil lafalnya dianjurkan merujuk langsung pada Shahih Muslim (kitab Al Fitan wa Asyrath As Sa'ah, hadits Al Jassasah), Shahih Al Bukhari (kitab Ahadits Al Anbiya, bab nuzul Isa bin Maryam), Sunan Abu Dawud (Kitab Al Mahdi) dan Sunan Ibnu Majah (kitab Al Fitan, bab khurujul Mahdi).
(3) Doa yang dibaca untuk memperbarui baiat kepada beliau diuraikan dalam tulisan Doa Al Ahd di arsip ini.
(4) Susunan bahasa Indonesia dan rincian riwayat dalam tulisan ini masih memerlukan pembacaan dari mereka yang berkompeten dalam kedua bidang tersebut.