Hakikat Shalawat: Perintah yang Allah Dahulukan atas Diri-Nya

Ada satu hal pada ayat shalawat yang mudah terlewat karena ayat itu terlalu sering kita dengar. Dalam Al Qur'an, ketika Allah SWT memerintahkan sesuatu kepada orang beriman, biasanya perintah itu disampaikan langsung: wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah, wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. Perintahnya turun kepada hamba, dan yang mengerjakannya adalah hamba.

Ayat shalawat tidak berbentuk demikian.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

QS Al-Ahzab (33):56

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Perhatikan susunannya. Allah SWT tidak memulai dengan perintah. Dia terlebih dahulu mengabarkan apa yang Dia sendiri lakukan, lalu apa yang para malaikat lakukan, dan baru setelah itu orang beriman diperintahkan melakukan hal yang sama. Kita tidak diminta memulai sesuatu; kita diminta bergabung ke dalam sesuatu yang sudah berlangsung.

Susunan seperti ini bukan satu-satunya dalam Al Qur'an. Ada satu ayat lain yang bergerak dengan urutan yang persis sama.

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

QS Ali 'Imran (3):18

"Allah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu (juga menyaksikan) ..."

Yang pertama bersaksi adalah Allah, kemudian para malaikat, kemudian orang yang berilmu. Pola yang sama: Dia lebih dahulu, lalu makhluk mengikuti. Bandingkanlah dengan shalat wajib — suatu kewajiban yang agung, namun tidak ada ayat yang menyatakan bahwa Allah mengerjakannya lebih dahulu. Shalawat berdiri di tempat yang berbeda.

Bentuk kata kerjanya

Ada satu perincian tata bahasa yang layak diperhatikan. Kata yang dipakai adalah yushallūna — kata kerja bentuk mudhari', yang dalam bahasa Arab menunjukkan perbuatan yang sedang dan terus berlangsung, bukan perbuatan yang selesai pada satu titik waktu.

Ayatullah Makarim Syirazi menyebutkan hal ini dalam tafsirnya: pemakaian bentuk mudhari' pada ayat ini menunjukkan kesinambungan — bahwa Allah SWT dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat kepada Nabi SAAW, dan sifatnya tidak terputus.

Jika demikian halnya dengan pihak yang lebih dahulu mengerjakannya, sulit dipahami bila pihak yang diperintahkan mengikutinya justru membatasi diri pada waktu-waktu tertentu saja.

Satu kata, tiga makna

Pertanyaan yang wajar muncul: apa sebenarnya arti "bershalawat" ketika yang melakukannya adalah Allah? Tentu maknanya tidak sama dengan ketika yang melakukannya adalah kita.

Secara bahasa, shalāh berarti doa dan pengagungan. Maknanya tetap satu, tetapi berubah wujud menurut siapa yang mengucapkannya — dari atas ke bawah ia berarti pemberian, dari bawah ke atas ia berarti permohonan.

Yang menarik, pembagian ini dirumuskan dengan cara yang hampir identik di dua tradisi yang jarang dipertemukan.

Dalam Shahih Al Bukhari, sebelum menurunkan hadits tentang ayat ini, Al Bukhari sendiri mencantumkan keterangan Abul Aliyah: shalawat Allah adalah pujian-Nya atas Nabi SAAW di hadapan para malaikat, sedangkan shalawat para malaikat adalah doa. Dari Sufyan Ats Tsauri dinukil rumusan serupa: shalawat Tuhan adalah rahmat, dan shalawat para malaikat adalah permohonan ampun. Ibnu Hajar Al Asqalani menguraikan hal ini lebih panjang dalam Fathul Bari.

Sementara itu, dalam sumber-sumber Ahlul Bayt, ketika Imam a.s. ditanya apa makna shalawat Allah, shalawat malaikat, dan shalawat kaum mukminin, jawabannya membagi hal yang sama menjadi tiga: shalawat Allah adalah rahmat baginya, shalawat para malaikat adalah pengangkatan derajat baginya, dan shalawat orang beriman adalah doa mereka untuknya. Syaikh Ath Thusi menguraikannya searah dalam At Tibyan: shalawat Allah kepada Nabi SAAW berupa penghormatan, pengagungan dan peninggian derajat, sedangkan shalawat malaikat adalah permintaan mereka kepada Allah agar Dia memperlakukan Nabi SAAW demikian.

Dua tradisi, satu rumusan. Ini bukan perkara yang diperselisihkan.

Bahwa shalawat Allah kepada hamba berarti rahmat yang mengeluarkan, dinyatakan sendiri oleh Al Qur'an.

هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَـٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا

QS Al-Ahzab (33):43

"Dialah yang bershalawat untukmu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman."

Simpanlah ayat ini; kita akan kembali kepadanya di akhir tulisan.

Pertanyaan para sahabat

Bagian ini adalah yang paling kokoh dari seluruh pembahasan, dan justru yang paling jarang diperhatikan.

Ketika ayat shalawat turun, para sahabat tidak langsung mengetahui cara mengamalkannya. Mereka bertanya. Dan pertanyaan mereka direkam dalam Shahih Al Bukhari, diriwayatkan dari Ka'ab bin 'Ujrah melalui Abdurrahman bin Abi Laila, dalam dua tempat yang berbeda.

Pada kitab tentang kisah para nabi, redaksi pertanyaannya berbunyi: bagaimanakah cara bershalawat kepada kalian, wahai Ahlul Bayt — sebab Allah telah mengajari kami bagaimana mengucapkan salam?

Pada kitab tafsir, ketika sampai pada surat Al Ahzab, redaksinya lebih ringkas: adapun salam kepadamu, kami telah mengetahuinya; lalu bagaimanakah shalawatnya?

Dua hal patut dicatat dari pertanyaan itu sendiri, sebelum menengok jawabannya.

Pertama, para sahabat membedakan dua hal: salam yang sudah mereka ketahui, dan shalawat yang belum. Keduanya bukan satu perkara.

Kedua, pada riwayat yang pertama mereka tidak bertanya "bagaimana bershalawat kepadamu", melainkan kepada kalian, wahai Ahlul Bayt. Yang bertanya adalah para sahabat sendiri, dan merekalah yang menyebut Ahlul Bayt di dalam pertanyaannya.

Adapun jawaban Rasulullah SAAW, pada kedua riwayat itu — dan pada riwayat-riwayat sejajar dalam Shahih Muslim serta kitab-kitab sunan — memuat satu unsur yang sama: ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim; sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Jadi lafal yang menyertakan keluarga Nabi SAAW bukanlah tambahan yang muncul belakangan, dan bukan pula ciri satu mazhab. Ia adalah lafal yang diajarkan sendiri oleh Rasulullah SAAW ketika beliau ditanya, dan ia tercatat di dalam kitab yang menempati kedudukan tertinggi di kalangan Sunni.

Ibnu Taimiyah pun menyatakan hal ini terus terang: keluarga Rasulullah SAAW memiliki hak-hak yang wajib dijaga, Allah menetapkan bagi mereka bagian dari khumus dan fai, dan memerintahkan agar shalawat disampaikan kepada mereka bersama shalawat kepada Rasul-Nya — lalu ia mengutip lafal itu apa adanya.

Makna "wa sallimū taslīmā"

Ayat shalawat tidak berhenti pada perintah bershalawat. Ia dilanjutkan dengan wa sallimū taslīmā.

Pemahaman yang paling umum, dan yang dipegang mayoritas mufasir, adalah bahwa kalimat itu berarti mengucapkan salam kepada Nabi SAAW. Inilah sebabnya kita mengucapkan shallallāhu 'alayhi wa ālihi wa sallam.

Namun ada pembacaan lain, dan pembacaan itu berpijak pada suatu ganjalan yang nyata: jika sallimū hanya berarti mengucapkan salam, mengapa para sahabat dalam hadits di atas justru menyatakan bahwa cara mengucapkan salam sudah mereka ketahui, dan yang mereka tanyakan adalah shalawatnya?

Dari Imam Ja'far Ash Shadiq a.s. diriwayatkan bahwa ketika Abu Bashir menanyakan hal ini, beliau menjawab bahwa taslim pada ayat itu adalah penyerahan diri kepada beliau SAAW dalam setiap urusan. Pembacaan ini bukan tanpa sandaran dari Al Qur'an sendiri, sebab kata yang sama dipakai dalam konteks yang tidak mungkin diartikan sebagai ucapan salam.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا

QS An-Nisa (4):65

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, lalu tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima sepenuhnya."

Di sini yusallimū taslīmā jelas bermakna berserah dan menerima, bukan mengucapkan salam. Pembacaan ini tidak menggugurkan makna yang pertama; ia menambahkan satu lapisan di atasnya. Yang diminta bukan hanya lisan yang menyebut, melainkan sikap yang tunduk pada apa yang beliau bawa.

Yang tidak lolos pemeriksaan

Materi yang menjadi dasar tulisan ini memuat banyak kutipan, dan kejujuran menuntut agar disebutkan bahwa tidak semuanya sama kuat. Tiga catatan berikut perlu disampaikan.

Hadits "shalawat batra'". Riwayat yang menyebut bahwa Rasulullah SAAW melarang shalawat yang terputus — yaitu menyebut Muhammad lalu berhenti tanpa menyebut keluarganya — sering dikutip dari Ash Shawa'iq Al Muhriqah karya Ibnu Hajar Al Haitami. Namun riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits induk, Ibnu Hajar Al Haitami sendiri membawakannya dengan bentuk pasif "dikatakan", dan tidak dikenal sanad yang bersambung untuknya. Yang penting dicatat: kesimpulannya tidak bergantung pada riwayat ini. Lafal yang menyertakan keluarga Nabi SAAW sudah tegak di atas Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Berdalil dengan riwayat yang lemah untuk perkara yang sudah kokoh justru melemahkan kesan pembaca terhadap perkara itu sendiri.

Riwayat tentang cahaya Nabi SAAW sebagai makhluk pertama. Riwayat Jabir yang menyebutkan bahwa yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabi SAAW dikutip dari Kasyful Khafa karya Al 'Ajluni. Perlu diketahui bahwa kitab tersebut memang disusun untuk menghimpun ucapan-ucapan yang beredar luas di lisan orang, termasuk yang tidak berdasar — dan Al 'Ajluni sendiri mencatat bahwa riwayat ini tidak dikenal sanadnya. Sejumlah ulama hadits menilainya tidak memiliki dasar. Ia sebaiknya tidak dijadikan tumpuan.

Rujukan kepada Bihar Al Anwar. Sebagian riwayat dalam materi tersebut hanya bersandar pada Bihar Al Anwar. Kitab ini adalah himpunan yang sangat berharga, tetapi ia memang disusun sebagai penampung — Al Majlisi menghimpun tanpa menyaring derajat setiap riwayat, dan beliau tidak menyembunyikan hal itu. Riwayat yang hanya ditemukan di sana perlu dibaca sebagai bahan, bukan sebagai putusan.

Materi itu juga memuat sejumlah bantahan yang bersifat perorangan — menyoroti ketidakkonsistenan seorang ahli hadits, atau menukil tuduhan sejarah terhadap tokoh tertentu dari sumber yang memang memusuhinya. Bagian-bagian itu tidak dimuat di sini. Ia tidak menambah apa pun pada persoalan yang sedang dibahas, dan pokok bahasan ini cukup kuat untuk berdiri tanpanya.

Untuk siapa sebenarnya shalawat itu

Tinggal satu pertanyaan, dan mungkin inilah yang paling penting: jika Rasulullah SAAW sudah mencapai kedudukan yang tidak dapat ditambah lagi, mengapa kita diperintahkan mendoakannya?

Jawabannya tersirat pada ayat yang tadi kita simpan. Allah menyatakan bahwa Dia bershalawat kepada orang-orang beriman supaya Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Artinya, shalawat yang datang dari Allah adalah alat pengeluaran — sesuatu yang memindahkan penerimanya dari satu keadaan ke keadaan lain.

Nabi SAAW tidak perlu dipindahkan dari mana pun. Yang perlu dipindahkan adalah kita.

Maka ketika seseorang bershalawat, yang bertambah bukanlah kedudukan Nabi SAAW — kedudukan itu tidak bertambah oleh ucapan orang yang berada jauh di bawahnya. Yang terjadi adalah pembacanya mendekat. Riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa satu shalawat dibalas berlipat ganda tidak sedang berbicara tentang keuntungan Nabi SAAW; ia berbicara tentang apa yang kembali kepada si pembaca. Sebagaimana dikatakan Imam Ali a.s., amal-amal itu dikembalikan kepada pelakunya.

Dan barangkali di sinilah letak jawaban atas keganjilan yang kita mulai di awal. Allah SWT mendahulukan perbuatan ini atas diri-Nya bukan karena Nabi SAAW membutuhkannya, melainkan karena kita membutuhkan sesuatu untuk diikuti. Perintah itu memberi tahu kita bahwa ada arus yang sudah mengalir sejak sebelum kita ada — arus rahmat yang tertuju kepada satu keluarga — dan kita dipersilakan masuk ke dalamnya.

Yang tidak masuk tidak merugikan siapa-siapa selain dirinya sendiri.