Tiga Ayat yang Dibacakan Imam Zainal Abidin a.s. di Syam

Pada awal bulan Safar tahun 61 H, rombongan tawanan dari Karbala tiba di Syam. Mereka diberhentikan di depan pintu, dibiarkan berdiri menunggu, dan dipertontonkan kepada orang banyak. Di antara mereka ada Ali bin Al Husain a.s., yang ketika itu baru mengemban imamah selama tiga pekan.

Seorang lelaki tua dari penduduk Syam mendekat. Ia memuji Allah karena, menurutnya, Allah telah membinasakan mereka dan memutus tanduk fitnah. Lalu ia mencaci, dan terus mencaci sampai selesai.

Yang menarik bukan hanya caci itu, melainkan jawaban yang diberikan. Imam a.s. tidak membalas dengan bantahan, tidak pula dengan amarah. Beliau hanya bertanya: apakah engkau membaca Al Qur'an? Lelaki itu menjawab: ya. Maka Imam a.s. membacakan tiga ayat.

Tiga ayat itulah yang menjadi pokok tulisan ini. Bukan karena hanya tiga ayat yang berbicara tentang Ahlul Bayt a.s. dalam Al Qur'an — jumlahnya jauh lebih banyak — melainkan karena dari sekian banyak ayat, tiga inilah yang beliau pilih untuk dibacakan di hadapan orang yang baru saja mencacinya.

1. Ayat Mawaddah — QS Asy-Syura (42):23

ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَٰتِۗ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًا إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ

QS Ash-Shuraa (42):23

"... Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap kerabat (dekat)."

Perhatikan siapa yang berbicara. Kata qul — katakanlah — menunjukkan bahwa kalimat itu bukan susunan Rasulullah SAAW sendiri, melainkan perintah dari Allah SWT untuk disampaikan. Ini penting: seandainya seorang manusia meminta agar keluarganya dicintai, permintaan itu wajar dicurigai. Di sini yang meminta adalah Allah, dan Rasulullah SAAW hanya menyampaikan.

Perhatikan pula apa yang diminta. Seluruh nabi sebelumnya, ketika ditanya tentang upah, menjawab bahwa upah mereka ada pada Allah. Rasulullah SAAW pun menyatakan tidak meminta upah — illa, kecuali satu hal: al mawaddah fil qurba. Bukan harta, bukan kedudukan, bukan pengikut. Satu perkara saja.

Kata yang dipakai adalah mawaddah, bukan sekadar hubb. Mawaddah adalah cinta yang tampak, cinta yang mesti diwujudkan dalam sikap — kata yang sama dipakai Al Qur'an ketika berbicara tentang hubungan suami istri. Maka yang diminta bukan perasaan yang disimpan di dalam dada, melainkan kecintaan yang nyata dalam perbuatan.

Ayat ini pula yang paling banyak diusahakan untuk dialihkan maknanya. Sebagian menafsirkan al qurba sebagai kerabat orang yang diajak bicara, sehingga maknanya menjadi: cintailah keluargamu sendiri. Tafsir semacam ini runtuh dengan sendirinya bila kita bertanya: perlukah wahyu turun untuk memerintahkan seseorang mencintai anaknya sendiri? Sebagian lain menafsirkan al qurba sebagai Quraisy, kaum kerabat Rasulullah SAAW secara umum. Ini pun tidak dapat dipertahankan, sebab di antara Quraisy terdapat orang-orang yang justru mengangkat pedang melawan Amirul Mu'minin a.s. Tidak mungkin Allah memerintahkan kecintaan mutlak kepada golongan yang sebagiannya memerangi wali-Nya.

2. Ayat Hak Kerabat — QS Al-Isra (17):26

وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا

QS Al-Isra (17):26

"Dan berikanlah kepada kerabat dekat haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."

Ayat pertama berbicara tentang sikap hati; ayat kedua berbicara tentang hak yang harus ditunaikan. Keduanya berpasangan: pengakuan tanpa penunaian hak adalah pengakuan yang tidak selesai.

Sebagian mufasir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Fadak. Tanah Fadak diserahkan penduduknya kepada Rasulullah SAAW tanpa melalui peperangan, sehingga kedudukannya berbeda dari Khaibar: ia bukan ghanimah yang dibagi lima, melainkan fai yang menjadi hak beliau sendiri. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika ayat turun, Rasulullah SAAW menyerahkan Fadak kepada Fatimah Az Zahra a.s. sebagai haknya — hak yang kemudian dirampas dari beliau setelah wafatnya ayahandanya.

Maka ketika Imam Zainal Abidin a.s. membacakan ayat ini di Syam, beliau sedang menunjukkan bahwa perampasan yang menimpa keluarganya bukan bermula di Karbala. Ia bermula jauh sebelumnya, dari hak yang tidak ditunaikan.

3. Ayat Tathir — QS Al-Ahzab (33):33

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا

QS Al-Ahzab (33):33

"... Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bayt, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya."

Ayat ketiga ini adalah yang paling tegas. Ia tidak berbicara tentang kecintaan atau hak, melainkan tentang kehendak Allah sendiri atas suatu keluarga.

Perlu diperhatikan bahwa kalimat ini adalah penutup dari ayat yang bagian awalnya memang ditujukan kepada istri-istri Nabi. Namun pada bagian penutup, kata ganti yang dipakai berubah: bukan lagi bentuk perempuan (kunna), melainkan bentuk yang mencakup laki-laki (kum) — 'ankum, yuthahhirakum. Pergantian kata ganti inilah yang menjadi salah satu dalil bahwa yang dimaksud Ahlul Bayt pada penutup ayat bukanlah istri-istri Nabi.

Siapa yang dimaksud dijelaskan oleh Rasulullah SAAW sendiri dalam peristiwa yang dikenal sebagai hadits Kisa, yang diriwayatkan baik dalam sumber Sunni maupun Syiah: beliau mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain a.s. di bawah satu kain, lalu ayat ini dibacakan. Beliau tidak membiarkan umatnya menebak.

Perhatikan pula bahwa Allah tidak berfirman "penghuni rumah" dalam arti bangunan, tetapi ahlal bayt — dan tidak ada golongan lain dalam Al Qur'an yang disebutkan disucikan oleh Allah dengan penyucian seperti ini.

Jawaban lelaki itu

Riwayat menyebutkan bahwa setelah tiga ayat itu dibacakan, lelaki tua tadi mengangkat tangannya. Ia tidak sekadar menyatakan cinta kepada Ahlul Bayt a.s., tetapi juga berlepas diri dari mereka yang memusuhinya. Sebab kecintaan yang sungguh-sungguh tidak dapat berdiri bersama keberpihakan kepada orang yang menyakiti yang dicintai.

Perhatikan betapa berat langkah itu. Ia berdiri di kota Syam, di hadapan orang banyak, di bawah kekuasaan yang justru memelihara permusuhan itu selama puluhan tahun. Namun pintu taubat tidak pernah tertutup bagi siapa pun yang menemukan Ahlul Bayt a.s., sebagaimana ia tidak tertutup bagi Hurr bin Yazid Ar Riyahi yang berpindah dari satu barisan ke barisan yang lain di pagi hari Asyura.

Mengapa tiga ayat ini

Imam a.s. berhadapan dengan seseorang yang membaca Al Qur'an sepanjang hidupnya, namun tidak mengenali keluarga Nabi di dalamnya. Maka beliau tidak membalas caci dengan caci, dan tidak pula berdalil dengan hadits — sebab hadits dapat ditolak oleh orang yang tidak mengakuinya. Beliau membuka Al Qur'an, kitab yang diakui lawan bicaranya sendiri.

Di sinilah letak pelajarannya bagi kita. Seseorang dapat menghafal Al Qur'an tiga puluh juz dan tetap tidak mengetahui kedudukan Ahlul Bayt a.s. di dalamnya. Hafalan itu mulia, tetapi hafalan bukan jaminan. Sebagian orang yang hadir di Karbala pada pihak yang berseberangan pun mengenal Al Qur'an dengan baik.

Tiga ayat ini pendek dan mudah dihafal. Bila suatu hari ada yang bertanya mengapa kita bersungguh-sungguh mengikuti Ahlul Bayt a.s., jawabannya cukup tiga rujukan: QS 42:23, QS 17:26, dan QS 33:33.

=====
(1) Tulisan ini disusun dari uraian Dr. Sayed Ammar Nakshawani dalam majelis Arbain 1447/2025, "Three Verses Every Muslim Must Know" (https://www.youtube.com/watch?v=yJLe7g5luMg). Susunan, pilihan kata dan kesimpulan dalam tulisan ini adalah milik penyusun; ceramah tersebut menjadi sumber tema dan rujukan peristiwanya.
(2) Pembahasan kata ganti pada QS 33:33 diuraikan lebih panjang dalam tulisan Bagaimana dan Bersama Siapa Al Qur'an di arsip ini.